Selasa, 06 Maret 2012
Say Goodye Malem Itu.
Terima kasih karena kamu udah mampir dalam hari-hariku meski hanya sesaaat ini...
Walau hanya sekejap ini aku merasa.....
BAnyak saran dan kritik jail dari kamuu...
Kamu yang selalu bilang gayaku yang staycool
Kamu sering bilang kalo aku itu Cah Ayu...he he he hee #meski ayuku relatif dipandangan orang lain.#
Kamu bilang juga kalo aku tuh masih kenak kanakan...#yah bukan berarti karena tontonanku kebanyakan cartoon kamu musti bilang aku masih kekanak kanakan..#aku kan udah gede sai...#he he hee...
Hemz... kalo nulis semua yang kamu bilang nggak akan ada abisnya sai.....
tapi yang terakhir kamu bilang....# gara-garaku potong pony kependekan kamu semakin bilang kalo aku masih kaya anak kecil banget... kmu ibaratin aku kaya cherrybelle...#
TApi yang paling terakhir kamu bilang saat kamu musti bilang say goodbye malem itu..
.
Malem itu kamu bilang kalo kamu musti pergi...
Yang kamu bilang saat itu kalo kamu pergi bukan untuk ninggalin aku tapi...
Entahlah aku enggak akan berpikir untuk berharap lebih kamu masih mikirin aku sekarang...
Yang aku pikir kamu pergi berarti rasamu juga bakalan pergi untukku...
.
RasaKu hari Ini...Cheesy Bite Deluxe Cheese..
Andai saja aku bisa memilih antara sekarang dengan masa lalu....
Aku... akan lebih meilih dengan masa laluku...
Karena masa laluku merupakan masa dimana aku masih bersama mamaku....
Masa dimana aku masih bisa mengadu rasa lelahku pada mamaa...
Terasa lelah banget....
Sering aku harus merasa seperti ini... goyah menjalani hidup....
Sering aku berpikir hidupkku ini tak begitu adil...
TaPI ITU ENGGAK BENER .....
Dan sering merasa tersakiti karena aku yang belum bissa mengerti dan menerima keadaanku sekarang....
Bosan dengan apa yang aku miliki sekarang...
Jenuhhh .....
Yahhh jenuhhh aku merasa jenuuuhh...
Rasa yang dibilang ini cinta ,enatah kenapa kiniku merasa tak begitu istimewa...
Cinta ini Konyooooollll...
....seraasa aku hanya ingin pergi dari semua ini.... dan lari dari kehidupan ini....
Jumat, 08 Juli 2011
Tips Memutihkan Gigi

Tips cara memutihkan gigi, Gigi kuning bisa di akibatkan oleh kebiasaan meroko dan kopi, secara berkala noda kuning itu semakin menebal dan bisa mengakibatkan plak pada gigi anda. Sudah pasti kita akan sedikit kehilangan rasa percaya diri di masyarakat. Sepele memang, tapi senyum bagian dari ramah tamah, jika gigi kita kuning mungkin bisa di anggap tidak sopan karena tidak bisa menjaga kebersihan :)
1. Pasta Lemon dan garam
Untuk mendapatkan gigi putih cemerlang buatlah pasta yang terbuat dari beberapa tetes jus lemon yang di campur dengan sedikit garam dapur. gunakan ketika anda mengosok gigi secara teratur. Pasta lemon ini dapat menghilangkan karat pada permukaan gigi. resep yang praktis untuk gigi putih
2. Kulit Jeruk
Gosok gigi dengan menggunakan bagian dalam kulit jeruk. Kulit jeruk mengandung unsur pemutih yang sangat lembut, yang akan membantu menghilangkan noda karat pada gigi tanpa membahayakan lapisan email gigi.
3. Siwak
Penggunaan Miswak tersebar di penduduk muslim di dunia, dan merupakan entitas umum di negara-negara Muslim. Alasan umum penggunaan Miswak oleh umat Islam dikaitkan dengan agama. Dimana budaya dan tradisi penggunaan siwak atau miswak telah lama terjadi di negara-negara muslim. Terdapat 70 keunggulan Miswak yang dijelaskan dalm Islam dan banyak literatur telah membuktikannya secara ilmiah.
4. Daun Salam
Memutihkan gigi dengan daun salam sangat mudah, ambil 6 lembar jemur di terik matahari, lalu remas hingga menjadi bubuk. tambahkan kulit jeruk bubuk. Cara menggunakannya cukup gosokan campuran daun salam dengan kulit jeruk tersebut setiap hari. dan lihat hasilnya dalam 2 minggu.
5. Strawberry
Strawberry bukan hanya enak dimakan, di buat jus atau selai. tapi stoberi bisa memutihkan gigi juga. Meskipun rasanya manis, stroberi tidak berbahaya bagi kesehatan gigi. Sebaliknya, buah ini justru bisa membantu menghilangkan noda karat pada gigi dan membuatnya menjadi putih cemerlang. jadi banyak-banyaklah mengkonsumsi buah ini secara utuh, bukan hanya vitamin saja yang berguna buat tubuh tapi gigi pun jadi putih cemerlang
6. Sari Apel dan Cuka Putih
Sari buah apel dan cuka putih juga sangat efektif menghilangkan noda karat pada gigi, karena keduanya mengandung unsur pemutih yang membantu menghilangkan noda dengan cepat. Akan tetapi kedua bahan ini sifatnya sangat keras, sehingga penggunaan secara harian akan menimbulkan kerusakan pada lapisan email. Selain itu, rasanya juga sangat pahit.
7. Arang Kayu
Sebenarnya arang kayu juga sangat ampuh untuk membersihkan noda kuning pada gigi, namun bahan ini berbahaya karena dapat merusak email secara permanen dan menimbulkan rasa sakit pada gigi. Oleh karena itu, Anda sebaiknya tidak mencobanya.
SENJATA TRADISIONAL


o Keris
Keris adalah salah satu jenis senjata tikam yang terbuat dari logam. Ditinjau dari bentuknya, keris terbagi dua, yaitu keris yang bilahnya lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok. Keris yang mempunyai kelokan atau lik dapat dibedakan dari jumlah kelokannya. Yang terkecil adalah yang memiliki luk 3 dan yang terbesar memiliki luk 13. Bila ada keris yang luknya berjumlah lebih dari 13 disebut keris tidak lazim atau keris palawija. Perlu digarisbawahi, tidak ada keris yang luknya geanp, semuanya ganjil.
Keris yang sempurna terdiri dari kesatuan antara wilah (bilah), warangka (sarung), dan pegangan keris atau ukiran. Pegangan keris umumnya terbuat dari kayu, tapi ada juga yang dari gading, tulang, dan logam. Warangks biasanya terbuat dari kayu jati atau kayu cendan.
Salah satu keunikan keris adalah detailnya yang luar biasa. Hampir setiap detail yang melekat pada keris, baik pada bilah, warangka,maupun perabotnya bisa menjadi symbol. Dari ukiran atau pegangan keris pun, pada masa lalu orang bisa menilik derajat dan kepangkatan.
Seorang kesatria, memakai keris berwarangka model kesatrian. Pejabat kerajaan memakai warangka kadipaten. Ada lebih dari 25 varian warangka Jawa di masa lalu yang bisa menjadi indicator kepangkatan pemiliknya. Bahkan rah asal pemegang keris pun bissa ditilik dari warangkanya, apakah pemiliknya dari Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Jawa Timur, Madura, atau Bali.
Keris dianggap mempunyai kekuatan magis. Para empu pembuat keris mendapat kedudukan terhormat dalam masyarakat karena diangggap memiliki kesaktian serta keterampilan teknis tinggi.
Kekuatan simbolik keris dipercaya terletek pada pamor yang terbentuk di bahan campuran pembuatan keris. Bahan keris adalah besi meteor, terdiri dari unsure besi dan nikel. Pamor ini seperi hiasan hasil keterampilan empu keris. Pamor ini ada yang terbentuk sendiri pada waktu pemanasan dan juga yang sengaja dibuat.
Beberapa pamor dipercaya mempunyai kekutan magis. PAmor udan dipercaya dapat mendatangkan kekayaan, pamor putrid kinurung dapat menghindarkan dari mara bahaya, pamor panguripan dipercaya memiliknya tidak akan mengalami kekurangan dalam mencukupi kebutuhan hidup, dan pamor andon lulut dipercaya dapat menambah hbungan suami istri.
Akan tetapi, ada pula pamor yang dapat membahayakan pemiliknya, seperti pamor buntel mayit mengandung kekuatan untuk membunuh orang, pamor kudhung mayit berwatak mencelakakan si pemakai, dan pamor padhot menyebabkan pemakai selalu gagal dalam meraih cita-citanya.
MAKAN DAN MINUMAN TRADISIONAL

Makanan dan minuman tradisional Yogyakarata telah lama ada dan digenari oleh masyarakat dengan resewp spesifik yang diwariskan turun-emurun. Beberpa di antaranya sebagai berikut :
Gudeg, merupakan makanan yang dikenal di Yogyakarta. Cita rasanya manis gurih. Gudeg berasal dari bahsa Belanda Gutdag yang berarti cukup bagus atau enak. Saking populernya masakan ini, sampai-sampai Yogyakarta dijuluki kota Gudeg. Gudeg dibuat dari nagka muda yang dikupas, diiris-iris lalu direbus sampai masak.Samtan, bawang merah, bawang putih, laos, kemiri, ketumbar, daun salam dan garam dicampurkan ke dalam nangka tersebut. Dimasak lagi sampai berwarna kecokelatan.
WArna Cokelat dApat uga dibuat dengan memasukkan daun jati ke dalam masakan. Untuk menghasilkan rasa yang khas digunakanlah aranng dari batok kelapa untuk pemanasannya, sehingga panas bisa merata dan tahan lama. Dibutuhkan pemanasan lima sampai enam jam unutk menghasilakn gudeg yang berkualitas dan tahan lama.
Nasi uduk, disebut juga nasi gurih, biasanya nasi uduk dihidangkan pada upacara kenduri dan dibagi-bagikan dengan wadah dari daun pisang. Nasi uduk dibuat dari beras yang sudah dicuci bersih, dikukus sampai setengah matang, kemudian dicampur dengan santan dan daun salam. Lantas nasi dk dikukus lagi sampai masak. Mayoritas nasi uduk disajikan dengan lauk ingkung ayam.
Thiwul, merupakan makanan pokok sebagian kecil warga penduduk gunungkidul. Thiwul dibuat dari singkong yang dijemur sampai kering, ditumbuk sampai halus dan disaring diberi sedikit air dan dibuat bulatan kecil-kecil lalu dikukus sampai masak. Biasanya thiwul dihidangkan dengan sayur tempe.
Growol, merupakan makanan pokok dari KulonProgo. Growol terbuat dari ketela pohon yang sudah dikupas, dicuci, terus direndam dalam air selam dua sampai tigha hari. Setelah lunak, ia diangkat, dicuci bersih dan ditiriskan. Sesudah air mongering, ia dicincang sampai lumat, baru dikukus hingga masak. Lazimnya growol dicetak dengan daun pisang. Growol dimakan dalam bentuk irisan dengan sayur lodrh. Lauknya tempe benguk yang sudah dibacem. Makanan ini dapat ditemukan di Pasar Senolo.
Nasi Jagung, merupakan makanan pokok sebagian kecil penduduk di lereng Gunung Merpai. Jagung yang sudah kering direndam dalam air yang telah diberi air kapur selama setengah jam. Lantas jagung ditiriskan dan ditumbuk sampai halus. Setelah menjadi tepung, jagung dikukus sampai masak. Biasanya hidangan ini disajikan bersama sayur Lombok dan ikan asin.
Beras Kencur, oleh sebagian masyarakat dianggap sebagai minuman yang selain menyegarklan juga meningkatkan stamina tubuh. Beras kencur terbuiat dari beras yang direndam dalam air, ditiriskan, terus ditumbuk sampai halus.Kencur yang sudah dikupas kemudian ditumbuk dan dicampur dngan beras yang telah halus. Selanjutanya diberi air seukupnya, terus disaring. Minuman ini dihidangkan dengan diberi gula jawa atau gula pasir dan sedikit jeruk nipis. Beras kencur cocok diminum sehabis berolah raga.
Wedang Secang, yang berwarna merah merupakan minuman kesukaan Sri Sultan HB IX. Minuman ini dapat menjaga kesehatan. Badan yang masuk angin bila minum wedang secang hangat, bisa bugar kembali.Wedang secang terbuat dari serutan kayu secang, dua lembar daun cengkih yang sudah kering, irisan kulit pohon kayu manis, merica putih, daun serai, cabe rawit, dicampur dengan jahe yang sudahj dibakar dan dipukul-pukul sampai gepeng. Semua bahan dimasukkan ke dalam kendil tanah liat, terus dipanaskan dengan air sampai mendidih. Setelah disaring wedang secang dihidangkan dengan gula batu. Dimakam Imogiri, bahan ramuan wedang secang dijual sebaghai oleh-oleh bagi para peziarah.
Dawet, merupakan minuman pelepas dahaga yang cukup popular di Yogyakarta. Salah satu usur dawet adalah cendol. Untuk membuat cendol,panaskan tepung beras hingga mendidih dan tuang dengan sarinagn kedalam baskom yang berisi iair dingi. Tepung beras yang jauth ke dalam air din9in akan mengental dan membentuk cendol. Masukkan cendol kedalam mangkuk, tmabahkan santan kelapa dan sirup gula jawa untuk menambah sedap tambahkan daun pandan wangi ketika membuat sirup gula kelapa. Dipasar tradisional msih kita temukan penjual dawet yang menjajakan dagangannya dengan memakai tenggok, wadahg besar dari anyaman bambu.
Makanan dan minuman tradisioanal ini dibuat dengan bahan yang tersedia di wilayah DIY. Di daerah Gunungkidul dan KulonProgo dapat ditemui mkanan berbahan dasar ketela pohon, di daerah sleman dan bantul bnayak ditemukan makan berbahan dasar beras dan jagung. Ciri khas mkanan dari Yogyakarata terletak pada cita rasa yang cenderung manis.
ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL DJOGJA

.Rumah Joglo
Rumah joglo adalah rumah tradisional Jawa yang paling sempurna. Bangunan ini mempunyai bentuk yang besar dan membutuhkan kayu lebih banyak dalam pembuatannya. Bentuk khas dari bangunan joglo adalah menggunakan blandar bersusun melebar ke atas yang disebut blandar tumpangsari. Bangunan tersebut memounyi empat tiang pokok yang terletak di tengah yang disebut sangkaguru. Terdapat pula kerangka yang berfungsi sebagai penyiku atau penguat bangunan agar tidak tergeser posisinya yang disebut sunduk kili. Letak kerangka tersebut di ujung sangkaguru di bawah blandar. Apabila pada masing-masing sisi itu terdapat sunduk, maka sunduk keliling itu disebut koloran atau kendhit (ikat pinggang). Bentuk bangunan joglo ini mempunyai ukuran bujur sangkar.
Susunan rumah oglo biasanya dibagi tiga, yaitu ruangan pertemuan yang disebut pendapa, ruang tengah atau ruang tempat pentas wayang (ringgit) yang disebut pringgitan, dan ruang belakang yang disebut dalem atau oamh jero sebagai ruang keluarga. Dalam ruang kelurga terdapat tiga buah sentong (bilikkk) : sentong kiwo (bilik kiri), sentong tengah (bilik tengah), dan sentong tengen (bilik kanan).
Bagi kalangan bangsawan, biasanya di sebelah kiri dan ruang keluarga ada bangunan kecil memnjang yang disebut gandok. Bangunan kecil tersebut mempunyai banyak kamar.
Pendapa milik bangsawan selain sebagai tempat menerima tamu juga berfungsi sebagai tempat menggelar kesenian tadisonal seperti tari-tarian. Para undangan yang menyaksikan duduk di sebelah kiri dan kanan pendapa, sedangkan pihak tuan rumah duduk dalam ruangang menghadap kea rah depan.
Sentong kiwo dipergunakan untuk menyimpan senjata atau barang-barang keramat. Sentong tengah berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewi Sri atau Dewi Kesuburan sehingga disebut juga dengan pasren. Di dalam pasren terdapat genuk (gentong) yang terbuat dari tanah liat dan berisi sejimpit beras, kendi berisi air, jupak (lampu minyak elapa), lampu robyong, model burung garuda, paidon (jambangan dari kuningan tempat membuang air ludah), dan loro blonya, yaitu patung sepasang pengantin duduk bersila yang terbuat dari tanah liat atau kayu. Patung mempelai pria di sebelah kanan dan patung mempelai perempuan di sebelah kiri. Keduanya terletak di tengah dua buah paidon. Adapun sentong tengen untuk kamar tidur.
Dalem atau ruang keluarga digunkan untuk hal yang bersagkut-paut dengan p[rmbicaraan kalangan sendiri, merenungkan peristiwa atau pekerjaan lampau, memberikan nasihat kepada sanka keluarga, sampai kegiatan adat yang sakral, yaitu puncak dari rangkain dari upacara adat yang sebelunya diselenggarakan di tempat lain. Peringitan dimanfaatklan untuk menerima tamu khusus. Ia juga digunakan untuk pertunjukkan wayang kulit. Cerita yang dipilih biasanya terkait dengan perilaku manusia yang sarat dengan perbuatan tercela, sehingga memrlukan nasihat agar berbuat lebih baik di kemudian hari.
Dalam perkembangannya, bentuk joglo mengalami perubahan-perubahan seperti joglo lawakan, joglo sinom, jogli jompongan, joglo pangrawit, joglo mengkurat,joglo hageng dang joglo semar tinandhu.
.Rumah Limasan
Rumah limasan adalah rumah tradisional yang banyak dibangun oleh masyarakat Yogyakarta.Rumah ini cukup sederhana dan itdak membutuhkan banyak biaya dalam pembuatannya.
Limasan berasal dari kata limolasan yang berarti limabelasan. PErhitungan sederhan dalam pembuatan rumah limas an adalah ukuran olo 3 dan blandar 5 m. Molo adalah kerangka rumah paling atas yang bentuknya memanjang horizontal di ujung atap. Ibarat manusia, molo adalah kepalanya. Oleh karena itu sebelum molo dipasang, orang tidak boleh melangkahinya. Inilah bagian rumah yang dianggap paling keramta. Jika kita menggunakan molo 10 maka blandaarnya harus berukuran 15 m.
Dalam perkembangannya, bangunan limasan mempunyai bentuk sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, muncul macam-macam limasan lawakan, limasan gajah ngombe, limasan gajah njerum, limasan apiatan, limasan klabang nyander, limasan pacul gowang, limasan gajah mangkur, cere gancet, apitan pengapit, lambing teplok, semar tinadhu, trajumasa lambing gantung, trajumas, trajumas lawakan, lambangsari, sinom lambing gantung rangkla kuthuk ngambang.
Ruangan dalam rumah limasan terbagi tiga, yaitu ruangan depan, ruang tengah dan ruang belakang. Ruang belakang dibagi menjadi sentong kiwo, sentong tengah, dan sentong tengen. Penambahan kamar biasanya ditempatkan disebelah sentong kiwo ataupun sentong tengen.
Bagi petani, sentong kiwo berfungsi untuk menyimpan alat-alat pertanian, sentong tengah untuk menyimpan hasil pertanian seperti padi, dan ubu-ubian, dan sentong tengen digunakan untuk kmara tidur.
.Rumah Kampung
Rumah kampong terdiri dari soko (tiang) yabg berjumlah 4,6 atau 8 dan seterusnya. Biasanya rumah jenis ini hanya memerlukan 8 soko. Atap terletak pada dua belah sisi atas rumah dengan satu bubungan atau wuwung.Dalam perkembangannya, rumah kampong mengalami banyak perubahan dan variasi sehingga muncullah aneka rumah kampung. Diantaranya, kampung pacul gowang, srotong, dara gepak, klabang nyander, lambing teplok, lambing teplok semar tinandhu, gajah njerum, cere gancet, semar pinandho.
.Rumah Panggang-Pe
Ruamah Panggang-Pe merupakan bentuk rumah yang paling sederhana dan merupakan bangunan dasar. Inilah bangunan pertama yangf dipakai orang untuk berlindung dari gangguan angin, udara dingin, air hujan, dan terik matahari.
Bangunan sederhana ini hanya membutuhkan empat atau enam tiang. Di sekelilingnya ditegakkan didnding dari anyaman bamboo atau papan. Karena amat sederhana, maka ruangannya hanya satu.
Bila ada kebutuhan keluarga maka dapat ditambah ters belakang ruah. Dengan demikian, bentuk panggang-pe memiliki banyak variasi, seperti panggang-pe selirang, empyak setangkep atau gencet, trajumas, dan barengan.
UPACARA TRADISIONAL

.Sekaten
Setelah Raden Patah dilantik menjadi sultan pertama Kerajaan Demak, atas anjuran Wali Sanga didirikanlah Masjid Besar Demak yang selesai dibangun pada tahun 1408. Saat itu, penyebaran agama islam tidak banyak mengalami kemajuan. Kemudian muncul gagasan dari Sunan Kalijaga untuk menyelenggarakan keramaian menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pada bulan RAbiulawal . Maka, dibunyikanlah gamelan di halaman masjid agara rakyat mau masuk ke kompleks Masjid Besar. Sejak semiggu sebelum peringatan Maulid,diselenggarakan keramaian. Secara terus menerus gamelan ditabuh disertai dengan dakwah agama. Beberapa lagu gamelan digubah oleh Sunan Giri dan Sunan Kalijaga.
Mendengar bunyi gamelan yang merdu, rakyat bebondong-bondong menyaksikan dari dekat, kemudian menuju pelataran masjid.Para wali memanfaatkan keamaian tersebut sebagai ajang berdakwah tentang keluhuran agama ialam. Banyak yang tertarik dan kemudian masuk islam. Mereka yang masuk islam diwajibkan mengucapkan dua kaliamt syahadat, istilah Arabnya Syahadatain. Lidah orang jawa mengucapkannya sebagai sekaten. Orang yang telah menyempurnakan syahadat berarti sudah resmi masuk islam dan untuk menyempurnakan keislamnnya lalu disunat.
Pada malam 12 Rabiulawal, Sultan keluar dari keraton menuju masjid untuk mendengarkan riwayat hidup Nabi. Pada tengah malam, Sultan kembali ke keraton beserta gamelan sekaten pertanda berakhirnya perayaan sekaten.
Pada pemerintahan Sultan Agung, tradisi garebeg mulud disertai pisowanan garebeg di Sithingil. Acra tersebut diakhiri dengan wilujengan negarti berupa sesajian gunungan untuk kenduri di Masjid Agung.Sedekah dari raja untuk rakyat berupa gunungan inilah yang kemudian menjadi rebutan masyarakat karena diprcaya dapat digunakan sebagai tolak bala agar hasil pertanian tidak diserang hama penyakit. Selain garebeg mulud diadakan pula garebeg syawal unutk merayakan Idul adha.
Tradisi perayaan sekaten ini ditetapkan menjadi tradisi resmi sejak kerajaan pindah dari Demak ke Pajang, dari Pajang pindah ke Mataram, lalu ke Surakarta dan Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Sri Sultan HB I, ditabuhlah dua gamelan sekaten, yaitu Kyai Gunturmadu (yang bermaknaanugerah yang turun) di tempatkan di bangsal Pagongan Selatan dan Kyai Nogowilogo (yang bermakna Lestari dan menang perang) ditempatkan di bangsal Pagongan Utara.
.Labuhan
Dalam kepercayaan jawa, setiap tempat mempunyai penguasa gaib berupa mahluk halus penunggu. Gunung Merapi yang terletak di Utara Kota Yogyakarta diyakini ditunggu oleh mahluk halus bernama Eyang Sapujagad. Adapun Samudera Indonesia, biasa disebut laut selatan, yang terletak di selatan kota Yogyakarta ditunggu oleh wanita cantik jelita bernama Kanjeng Ratu Kidul.
Panembahan Senopati sebagai raja Mataram berupaya menjaga keharmonisan, keselarasan, dan keseimbangan dalam masyarakat. Karena itu, ia menalin komunikasi dengan kedua mahluk halus tesebut. Salah satu bentuk komunikasinya adalah dengan besemadi di tempat-tempat tersebut. Ketika Panembahan Senopati merasa sudah saatnyan mengambil alih kekuasaan Kerajaan Pajang, ia bertapa di Laut Selatan. Sementara itu, pamannya, yaitu Ki juru mertani , bertapa di Gunung Merapi.
Untuk menghormati ikatan antara Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram penerus Panembahan Senopati, maka setiap tahun diadakan labuhan di Pantai PArangtritis. Kalau kewajiban itu diabasikan, terdapat kepercayaan bahwa Kanjeng Ratu Kidul akan murka dengan mengirim tentara jin untuk menyebarkan penyakit dan berbagai musibah yang akan menimbulkan malapetaka bagi rakyat dan kerajaan. Tetapi bila labuhan tetap dilaksanakan, maka Kanjeng Ratu kidul akan memberikan perlindungan dan bantuan ke Mataram.
Labuhan ini sudah menjai upacara adat Keraton Mataram sejak abad ke VXII. Setelah perjanjian Gianti tahun 1755 yang membagi Mataram menjadi dua kerajaan, yaitu Kasunana Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, maka tradisi labuhan ini dilakuka oleh dua kerajaan Jawa tersebut.
Labuhan pertama kali di Kesultanan Yogyakarta diadakan sehari setel;ah penobatan pangeran Mangkubumi sebagai Sultan HB I tahun 1755. Tradisi ini berlangsung ssampai Sultan HB ke VII.
Pada masa pemerinthan Sulatan HB ke IX, labuhan diadakan setelah ulamg tahun Sulatan, Kini, di masa Sultan HB ke X, labuhan dilaksanakan sehari dulu lagi, yaitu sehari sesudah penobatannya menjadi raja. Labuhan diadakan setiap tahun pada tanggal 30 bulan Rejeb karena Rejeb tahun Wawu atau 7 Maret 1989.
Seribanya barang-barang labuhan atau sesaji di Parangkusumo, rombongan abdi dalem memasuki kompleks berpagar yang di dalamnya terletak Sela Gilang. Di atas batu inilah dulu Panembahan Senopati dan Kanjeng RAtu Kidul mengadakan pertemuan. Tempat itu diyakini sebagai pintu gerbang menuju kerajaan Kanjeng Ratu Kidul. Juru kunci yang memimpin pelaksanaan upacara membakar kemenyan, kemudian menanam kuku, rambut, dan pakain bekas sultran HB ke X di pojok kompleks.
Juru kunci membakar kemenyan lagi dan mengassapi ketiga ancak yang berisi barang labuhan lalu berangkat ke pantai untuk melabuhnya. Sekitar 10 langkah dari garis pantai, juru kunci duduk bersila menghadap ke laut melakukan sembah ke Kanjeng Ratu kidul sambil mengucapkan doa permohonan, “Hamba mohon permisi, Gusti Kanjeng Ratu Kidful. Hamba memberikan lelabuhan cucu Paduka ingkang Sinuwun Kanjeng sultan yang ke X di Ngayogyakarta Hadiningrat Cucu paduka mohon pangestu, mohon keselamatan, mohon panjang usia, kemuliaan kerajaan, keselamatan Negara di Ngayogyakarta Hadiningrat.”
Ketigaa ancak segera dibawa ke tengah laut unutk dilabuh. Ancak paling depaan unutk dipersembahkan kepada Kanjeng Ratu Kidul, raja dari mahluk halus di Laut Selatan. Ancak kedua dipersembahkan kepada Nyai Roro Kidul yang menjabat sebagai patih Kanjeng Ratu Kidul, dan ancak ketiga dipersembahkan kepada mbok Roro RAtu Kidul, pembantu kedua.
Masyarakat yangmenghadiri acara lelabuhan biasanya beramai-ramai memperebutkan sebagian dari benda labuhan ynag dihanyutkan ombak ke pantai. Menurut kepercayaan, barang-barang yang masih baru akan hanyut ke dalam laut karena dipakai oleh Knajeng Ratu Kidul, sedangkan barang-barang sepert baju bekas Sultan dan bnga sesaji akan kembali kepantai.
Menurut kepercayaan, barang-barang yang kembali terdampar di pantai tersebut mempunyai kekuatan ghaib karena dikirim kembali oleh Kanjeng Ratu Kidul untuk mengatasi segala gangguan dan penyakit.Beberapa orang yang menjadikannya sebagai jimat. Jimat adalah suatu benda yang difungsikan sebagai pusaka dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk membantu pemiliknya menangkal gangguan alam. Yang mendapatkan benda-benda labuhan berharap akan memperoleh kesejahteraan dan keberuntungan hidup.
.Bekakak
Bekakak disebut juga saparan bekakak. Bekakak berarti korban penyembelihan manusia atau hewan. Hanya saja, bakakak yang sisembelih dalam upacara ini hnya tepung ketan yang dibentuk seperti pengantin laki-laki dan perempuan sedang duduk.
Sebelum diarak unutk disembelih, pada malam sebelumnya diadakan upacara midodareni layaknya pengantin sejati. Menurut kepercayaan masyarakat pada malam menjelang perkawinan, para bidadari turun ke bumi untuk memberi . Orang-orang begadang semalam suntuk unutk meyambut kedatangan para bidadari tersebut.
Pada siang hari, :pengantin” diarak dari Balai Desa Ambarketawang, Sleman, Yogyakarta, ke Gunugn Gamping. Ini adalah tempat Kyai Wirasuta abdi dalem Sri Sultan HB I, muksa, hilang tanpa bekas.
Kyai Wirasuta adlah abdi dalem Penongsong, abdi dalem pwmbawa paying ketika Sri Sultan HB I bepergian. Ketika Sultan pindah dari Ambarketawang ke keraton yang barui, abdi dale mini tidak ikut pindah dan tetap tinggal di Gamping. Ia menjadi cikal-bakal penduduk di sana. Ia tinggal dalam Gua di bawah Gunung Gamping tersebut.
Suatu hai, jumat Kliwon sekitar tanggal 10-15 bulan Sapar, menjelang purnama terjadi musibah yang menimpa kyai Wirasuta sekeluarga, gunung Gamping yang didiami rutuh, kyai Wirasuta sekeluarga beserta hewan kesayangannya berupa landak ,gemak, dan merpati terkubur di reruntuhan.
Sri Sultan HB I segera memerintahkan untuk mencari jenazah mereka, tetapi tidak diemukan. Maka Sulatan memerintahkan para abdi dalem keraton supaya setahun sekali setiap bualn Spar antara tanggal 10-20 unutk membuat selametandan ziarah ke Gunung Gamping dengan tujan unutk menegnang jasa dan kesetiaan Ki Wirasuta sebagai abdi dalem yang loyal sampai akhir hayat.
Penyembelihan bekakak dimaksudkan sebagai bentuk pengorbanan untuk para arwah atau danyang penunggu Gunung Gampaing.Tujuannya adalah agara mereka tidak mengambil korban manusia, sekaligus berkenan memberikan keselamatan kepada masyarakat yang menambang batu gamping di sana.
.Rebo Wekasan
Rebo Wekasan merupakan suatu upacara tradisional yang terdapat di Desa Wonokromo, Pleret, Bantul. Letaknya sekitar 10 km dari kota Yogyakarta. Rebo wekasan berasakl dari kata rebo dan wekasan yang berarti hari rabu terakhir bulan sapar.
Pada tahun 1600, Keraton Mataram yang berkedudukan di Pleret sedang dilanda penyakit atau pageblug. Sultan Agung sebagai raja Mataram sangat prihatin. Ia pergi bersemadi di Masjid Soko Tunggal di Desa Kerton. Dalam semadinya ia mendapat petunjuk dari Tuhan untuk membuat penolak bala guna mengusir wabah tersebut.
Dipanggillah Kyai Sidik dari Wonokromo untuk membuat penolak bala. Jimat adalah penolak bala itu. Jimat tersebut berupa aksara arab bertuliskan Bismillahir Rahmanir Rahim sebanyak 124 baris dan dibungkus dengan kain mori putih. Oleh Sultan Agung, jimat tersebut direndam dalam bokor kencana dan diminumkan kepada orang yang sakit, dan ternyata mereka sembuh.
Semakin banyaknya orang yang dating meminta air tersebut. Lantaran tidak mencukupi untuk semua orang, maka Sultan Agung memerintah Kyai Sidik unutk membuang jimat tersebut di tempuran Sungai Opak dan Sungai Gajahwong. Berduyun-duyunlah orasng berkunjung ke tempuran tersebut untuk membvasuh muka, mandi, dan berendam agar mendpat keberuntungan.
Pada masa pemerintahan Sri Sultan HB I, kyai Muhammad Fakih dititahkan untuk membuat Masjid Pathok negoro di Desa Wonokromo dengan nama Masjid at-Taqwa. Awlanya Masjid tersebut terbuat dari anyaman bambu dengan atap dari anyaman daun alang-alang yang disebut welit.Karena keahliannya membuat welit maka masyarakat sekitar memanggilnya Kyai Welit. Dia juga meneruskan tradisi rebo wekasan pada Rabu terkhir bulan Sapar tahun 1754 M. Dia membuat kue Lemper yang dibagikan ke masyarakat di sekitar.
Menurutnya, kue lemper mengandung nilai filosofis. Kulit lemper dari daun pisang mengibaratkan segala hal yang dapat mengotori akidah, sehingga dibuang. Ketan ibarat kenikmatan duniawi. Isi lemper yang berupa daging cincang ibarat kernikmatan akhirat. Jadi makan lemper bermakna bahwa orang yang ingin mendpat kebahagiaan dunia dan akhirat harus bisa menghilangkan kotoran jiwa sehingga jadi bersih seperti lemper yang sudah dikupas.
Peristiwa tersebut dianggap sebgai hari bersejarah bagi masyarakat Wonokromo sehingga diperingati setiap tahun. Upacara rebo wekasan dianggap sebagai pengingat bahwa telah terjadi musibah yang menelan banyak korban jiwa. Tradisi mengarak lemper terus diturskan sampai sekarang dalam bentuk lemper raksasa sepanjang dua setengah meter dengan diameter setengah meter.
.Siraman Kanjeng Kyai Jimat
Upacara dimaksudkan sebagai bentuk pemuliaan terhadap benda-benda pusaka kerajaan yang mengandung nilai sejarah atau mempunyai nilai spiritual karena bertuah dan dikeramatkan. Dengan menyajikan persembahkan makanan (caos dahar)berupa sesajen buat kereta pusaka Kanjengkyai Jimat diharapkan roh penunggu kereta memberikan keselamatan bagi keluraga dan para kawula kerajan.
Acara ini dislenggarakan di museum kereta Pagedongan Rotowijayan, keraton Yogyakarta. Biasanya, acara tersebut digelar hari Slesa kliwon atau Jumat Kliwon bulan Sur. Setelah diberi sesaji, kain penutup kereta dibuka untuk mendorong dari tempatnya ke luar depan pintu Pagedongan. Bagian pertama yang dibersihakan adalah bagian depan kereta berupa patung putrid duyung. Dilanjutkan bagian atap, terus kebelakang. Terkhir adalah bagian roda kereta. Asap dupa terus mengepul tiada henti menciptakan suasan magis.
.Nguras Enceh
Enceh atau kong adalah wadah air yang terbuat dari tanah liat. Ada empat buah enceh di halaman Supit Urang Isatana Saptarengga, makam Sultan Agung. Dua buah enceh yang ada di sebelah timur menjadi wewenang kasunanan Surakarta dan dua buah yang ada di sebelah barat menjadi wewenang Kesultanan Yogyakarta.
Nama-nama enceh mulai dari timur ke bara adalah Nyai Siyem berasal dari negeri Siam atau muangthai, Kayai mendung berasal dari negeri ngerum, Kyai Danumaya berasal dari Palembang, dan Nyai Danumurti berasal dari Aceh. Menurut abdi dalem Puralaya yang menjaga makam, enceh ini digunakan sebagai tempat wudu Sultan Agung ketika hendak menuniakan sholat.
Pada bulan Sura, hari Jumat Kliwon, banyak masyarakat yang mengikuti upacara pembersihan enceh. Mereka berebut mendpatkan air bekas cucian encehy. Ada juga yang caos dhahar dengann membawa kembang setaman dan membakar kemenyan. Mereka meminta agar dikabulkan segala cita-citanya. Ada juga oaring-orang tua yang membasuh mukanya dengan air enceh yang dipercaya membuat awet muda dan menyembuhkan berbagai penyakit.
Sebelum enceh dibersihkan, terlebih dahulu dilakukan sugengan dengan tahlilan yang dilaksanakan oleh abdi dalem juru kunci keraton Yogyakarta. Setelah dikuras, enceh diisi dengan air sampai penuh. Kemundian air kurasan tadi dibagiakn bagi yang membutuhkan, ada juga yang langsung diminum di tempat.
Langganan:
Postingan (Atom)
