Sabtu, 16 Oktober 2010

bait cintA dikota baruku


Bulan.
Biar cahaya melukis malam jadi taman. Kubayangkan kau di sini, di pangkuan.
Memetik angin mendawaikan lagu, seirama detak jantung memperjelas rindu. Tiada yang lebih indah dari pemandangan, ketika tatap matamu bersinar di pangkuan. Mungkin kautitipkan kerling matamu pada embun. Kukecup keningmu pada setangkai kuntum.

Jarak. Aku mencintaimu, maka rindu menjadi pertemuan paling indah ketika kamu tak di sisiku. Suaramu musik yang membebaskan aku dari sepi. Gemuruh. Aku dengar ombak di kejauhan, bagai ritmis jantung berdebar memecah sunyi.
Memenuhi teluk hatiku dengan gemuruh laut yang tak pernah henti. Sebab hanya rindu mampu menyempurnakan percakapan kita, yang kadang tak bisa diakhiri dengan ciuman.

Malam lebih panjang.
Memikirkan kamu seorang.
Di balik cerahnya bintang, kaukah mengarahkan kompas hatiku. Untuk kutemukan doamu yang kau titipkan pada langit jauh. Jejak jejakmu menandai setiap kenangan, menciptakan bayangan yang memenuhi lensa mata.
Sungguh, aku rindu padamu.
(".mungkin itu semua hanya pelampiasan kata kata dari kuuuuuu buat kamu yang ada disana...........")

,,,,,,,,''''''''',,,,,,,,,,,,,,,,???????



WINE O'CLOCK

A bead of sweat rolled from my forehead, down my nose and into the greasy orange sink water. I wiped my face with my apron, lifted my baseball cap to cool my head and sighed. As I picked at the food dregs that had coagulated from the sink water onto my arm hairs, I surveyed my domain—the dishpit. It was a mess. The counters were covered with the remains of what, not long before, had been meals. But the dishmachine stood empty. No dirty dishes were in sight. No one yelled: “More plates!” or “Silver! We need silverware!” For the first time in hours, a calm settled over my dishroom. Having successfully beaten back the bulk of the dinner rush, I was caught up and it felt good.



Time for another go-round. On my way to the waitress station, I grabbed an empty bus tub and twirled it on my middle finger—a trick I’d perfected while working at a bagel shop in New Mexico. I lowered the spinning tub from my finger to my cap—a new trick I’d yet to perfect. The tub sputtered from my head and plummeted into the full bus tub that awaited me. A couple plates smashed to the floor.



The crash rang throughout the restaurant and was followed by a shocked hush from employees and customers alike. I, too, observed the moment of silence for the departed plates. But I wasn’t sad to see them go. If dishes had to break—and they did have to—then it was best to break the dirty ones rather than the plates I’d already worked to clean.



In some Illinois cemetery, Josephine Cochrane was spinning in her grave. She was the 1880s socialite who’d grown fed up by her servants breaking her precious china as they washed it by hand. Cochrane presumed that by reducing the handling, there’d be far less breakage. So she invented the motorized dishwashing machine. Her contraption became an instant hit with large restaurants and hotels in Chicago. Even the machine I was using at this place—a Hobart—was a direct descendent of Cochrane’s. But now, more than a century since the introduction of her innovation, human dishwashers—particularly this one—were just as cavalier about dish breakage as they’d been back in Cochrane’s day.



As I looked down at the wreckage at my feet, the boss-guy charged around the corner wide-eyed with his hand clutched to his chest as if he’d been shot.



“Plates fell,” I said.



“Again?” he sighed. “Try to be more careful, Dave.”



Six weeks earlier, when a fellow dish dog had tipped me off about this gig—an Austrian-themed inn at a ski area in Vermont’s Green Mountains that came complete with room and board—I was immediately intrigued. I’d pictured myself isolated in the mountains and hibernating through the winter at this job while getting caught up with my reading, saving up some money and crossing yet another American state off my list. When I called about the job from Wisconsin, the boss-guy assumed that if I wanted to come all that way to dish in a ski area, then I must’ve been a ski nut.


“No,” I told him. “Actually I don’t ski.”


That made him suspicious. He then asked, “Do you have long hair?”


“Not anymore,” I said.


“Okay,” he said. “If you can get here by next week, the job’s yours.”


I rode the bus most of the way and hitchhiked the rest and when I arrived, the boss was no longer suspicious. I was willing to dish and that was enough for him. In fact, he gave so little thought to me that by the second day, he started calling me by the wrong name.


“And Dave, clean it up,” he said, looking at the broken plates on the floor.



I’d never bothered to correct him.



“All right,” I said.



When he turned and walked back to the dining room, I kicked the debris under the counter and headed back to the dishpit with the full bus tub.



While unloading the dirty dishes, I mined for treasure in the Bus Tub Buffet. The first find was fool’s gold—a half-eaten schnitzel. I couldn’t blame the diner who’d left the second half uneaten. It was the place’s specialty, but it wasn’t very special. I snobbishly passed on it as well and continued excavating.



I unearthed more dishes and then struck pay dirt: some garlic bread and remnants of crème brulée. I smeared the crème brulée on the garlic bread and scarfed it down. Scrumptious, said my taste buds. Queasy, countered my stomach. The gut had a point. Bus Tub Buffet? More like Bus Tub Roulette: you win some, you lose some. So far I was losing.



As I was guzzling water from the tap, the call went up in the adjacent kitchen: “Wine o’clock! Wine o’clock!”



I looked at the clock. Indeed, it was already wine o’clock.



Dick, one of the cooks, entered the dishpit with a grin on his face and a jar in each hand. He handed me a jar and held up the other in a toast.



“Wine o’clock,” he said.



“Wine o’clock,” I repeated.



We clinked jars and then downed their cooking sherry contents. Wine o’clock was eight o’clock—an hour before closing time and an occasion observed by the cooks with rounds of sherry. Closing time—nine o’clock—was celebrated in a similar fashion except with shouts of

Selasa, 05 Oktober 2010

Tanpaa makna




Kesunyian yang aku rasakan tak mampu kupahami
Penantian yang kutunggu tanpa tau apa yang aku tunggu
Kegelisahan dalam jiwa yang tak mampu kumengerti
Entah apa yang kurasa
Sungguh tak dapat kupahami.

Kesejukan jiwa yang ingin kurasakan
Tanpa mengetahui ada dan tiada apapun
Cinta,kasih sayank tak mampu saat ini aku rasakan

Jiwa dan raga berkecamuk
Dalam perasaan sunyi dan senyap
Ketegaran yang selama ini kupunya
Tanpa ada maknanya..
Ketabahan yang ada membuat semuanya hilang..

Tanpa ada perasaan dihati ini
Yang terbelenggu oleh ketakutan
Apakah ada cinta sejati ?
Sungguh tak dapat kupahami

Begitu juga dengan dilema kehidupan
Semuanya maya dan palsu
Kehidupan tanpa adanya keabadian
Asa dan semuanya menjadi stu..dan hilang !

Kau selalu setia menemaniku
Memelukku disaat bimbang
Mendoakanku siang dan malam

Perjuanganmu begitu berarti bagiku
Kau yang merawatku
Yang tak pernah lelah membimbingku

Walau aku sering membuat
Sungai – sungai yang mengalir deras
Membelah wajah lembutmu
Walau aku sering membuatmu
Kecewa karena sikapmu
Namun cinta kasihmu

Tetap tercurah menemani hari – hariku
Mengiringi langkah kakiku
Wajahmu sebening tetesan embun pagi
Hatimu putih suci

Seputih awan yang berarak ceria
Menghiasi keindahan lazuardi
Tak terbayang ENAM TAHUN sudah kin kau pergi
Meninggalkanku yang
Terombang ambing arus duniawi

Mama……
Cintamu lebih dari segalanya
Sejak saat aku masih dalam kandunganmu

Istilah eksekutif sering melahirkan konotasi status, wewenang, tanggung jawab, kekuasaan dan semacamnya. Begitu pula untuk jabatan sekretaris eksekutif. Seseorang dengan jabatan eksekutif, termasuk sekretaris eksekutif telah akrab dengan berbagai macam persoalan yang bersumber dari tugas yang dibebankan kepadanya. Baik beban karena jabatan ditempat kerja, beban kerja karena jabatan di organisasi-organisasi luar yang mungkin berhubungan dengan jabatan di kantor ataupun tidak, beban tanggung jawab keluarga maupun beban sosial tertentu di masyarakat bertolak dari kedudukannya.

Di dalam sistem nilai masyarakat eksekutif tidak dapat bersikap dan berperilaku seenaknya sendiri. Bagaimanapun keadaannya masyarakat mengaharapkan agar seorang eksekutif akan selalu rasional, bersikap bijak dan selalu mengendalikan perasaan.

Beban moral adalah konsekuensi jabatan. Dengan menduduki jabatannya seorang eksekutif mempunyai beban moral untuk memenuhi kualifikasi tertentu yang berkaitan dengan tanggung jawab atas tugasnya dan jabatan yang dipercayakan kepadanya. Seorang sekretaris junior misalnya harus mengalami dulu masa pendadaran melalui berbagai macam pelatihan dan pendidikan, sebelum sepenuhnya menjadi seorang sekretaris eksekutif. Dalam masa pelatihan sekretaris junmior belajar mengenali dan memahami segala macam aspek jabatan sebagai sekretaris. Dalam masa orientasi pengenalan dan pemahaman tugas tersebut dapat melalui pelatihan dan pendidikan yang diprogramkan atau melalui pengembangan diri berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama masa pengenalan dan pemahaman tugasnya sebagai seorang sekretaris.

Pada masa sekarang diharapkan sekretaris memahami bahwa setiap aspek jabatan mempunyai beban tertentu seperti waktu, penyelesaian tugas dengan baik, menerapkan metoda atau prosedur tertentu dan mempengaruhi orang lain. Setiap tugas yang diselesaikan dengan baik akan menghasilkan kepuasan dan menghilangkan beban yang dibawa tugas tersebut. Tugas-tugas yang tidak terselesaikan secara tuntas akan mengakibatkan adanya rasa tidak puas yang pada akhirnya menimbulkan stress.

Cara seseorang bereaksi terhadap suatu masalah berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Masalah yang sama juga akan memberi akibat berbeda bagi individu yang berlainan. Begitu pula cara mengatasi masalah tiap-tiap individu satu sama lain akan berbeda. Pengertian sehari-hari beban kerja tersebut dikenal dengan istilah stress. Stress dapat berdampak positif maupun negatif. Individu yang dapat memberikan reaksi positif terhadap stress diwujudkan dengan penyesuain diri terhadap situasi yang ditimbulkan. Kemampuan menyesuaikan diri akibat stress akan membentuk pribadi yang mantap dan matang. Dengan kematangan dan kemantapan pribadi akan meningkatkan produktivitas pada bidang usahanya, menyerasikan hubungan sosial pada hubungan universal, dan bertambahnya rasa senang dan tenteram. Sebaliknya jika stress membawa reaksi negatif, akan menimbulkan gangguan-gangguan pada pribadinya dan akibatnya akan menurunkan produktivitas kerjanya disamping akan menekan segala perasaan yang berakibat fatal dalam membina karirnya. Seseorang yang stress di tempat kerja sangat umum kalau kemudian mencari kehangatan di dalam keluarganya dengan cara makan bersama di restoran atau pergi piknik. Hal semacam ini dilakukan untuk mencari keseimbangan antara kesibukan karena beban kerja dengan keserasian dalam membina keluarga.

Dalam kegiatan sehari-hari seseorang terlibat dalam pekerjaannya dan berbagai macam persoalan timbul. Persoalan tersebut berkaitan dengan lingkungan kerja. Sebagai seorang sekretaris harus mampu menciptakan suasana lingkungan kerja yang baik agar dapat mengurangi timbulnya stress. Sebenarnya salah satu penyebab seorang eksekutif dapat terkena stress ialah karena ia menjadi manager puncak. Sebagai manager puncak ia harus bertanggung jawab kepada dirinya sendiri, bukan kepada orang lain atas segala sesuatu yang diputuskan dan dikerjakan. Apabila ia masih dapat bertanggungjawab kepada orang lain berarti ia masih berlindung kepada orang lain dengan cara minta pendapat atau nasehat atasannya. Oleh karena itu untuk dapat menjadi seorang eksekutif yang matang dalam pandangan, emosi, sikap, tindakan dan pengambilan keputusan diperlukan pengalaman.

Stress merupakan akibat dari kelebihan beban kerja, fisik maupun psikologis. Bentuk teringan akibat stress ini adalah timbulnya rasa jenuh. Selain itu menurunnya ketahanan fisik sering menimbulkan gejala yang aneh seperti hilangnya semangat, acuh tak acuh, sering lupa dan sebagainya. Akibat lain adalah timbulnya penyakit jantung yang banyak diderita oleh para pejabat.

Cara untuk meringankan akibat stress adalah sebagai berikut:

1. Perlu mengadakan hubungan interpersonal yang dapat mendorong semangat. Beban berat yang melampaui kemampuan perlu ditampung bersama orang lain. Untuk mengurangi ketegangan seorang eksekutif dapat berolahraga atau piknik. Kehangatan hubungan interpersonal sangat berarti sebagai pendorong untuk mengurangi keadaan stress.

2. Mempelajari dimanika organisasi yang menjadi sumber stress dan mencoba mencari jalan keluar. Miksalnya wewenang atau tanggung jawab yang kurang jelas harus diperjelas, instruksi yang selalu disalahtafsirkan oleh bawahan harus dicari penyebabnya. Terlalu banyak atau sedikit tugas juga dapat menjadi sumber timbulnya stress. Mencari cara kerja baru yang lebih efektif merupakan cara lain untuk memecahkan persoalan. Perubahan semacam itu dapat menghilangkan rutinitas atau sifat menonton suatu pekerjaan. Dunia di luar kita selalu berubah dan kita dan dalam batas kemampuan masing-masing harus mengikuti perubahan-perubahan tersebut.

3. Menjaga kondisi baik fisik maupun psikis. Dengan makan bergizi baik maupun kebiasaan berdisiplin untuk bekerja maupun banyak bersantai berguna dalam menghadapi stress. Cara kita bereaksi terhadap stress juga perlu diperhitungkan.

Pada dasarnya tidak dibatasi sikap menghadapi stress. Seorang eksekutif harus menyadari bahwa bukanlah situasi stress yang merugikan, tetapi cara orang bereaksi terhadapnya. Banyak orang mengalami stress yang sama, tetapi akibatnya berlainan. Hal ini karena pengalaman mereka masing-masing berbeda. Setiap eksekutif harus memahami kemampuan pribadi masing-masing.

Untuk mengalihkan kejenuhan dan ketegangan perlu istirahat bersama keluarga. Stress yang dapat menimbulkan berbagai akibat, perlu dipelajari sebab-sebabnya untuk selanjutnya dapat dikendalikan. Dengan cara pengendalian diri inilah hidup menjadi tenang dan yang paling penting, stress dapat dihilangkan.
Sesungguhnya orang berakal itu
sabar atas penderitaan
Dihadapinya penderitaan itu
dengan berani dan tekun
dan berusaha dengan tenang
Untuk menanggulangi penderitaan
dan menolak bencana
Adapun orang bodoh
ia selalu takut
akan segala musibah yang menimpanya
sekalipun hanya kecil saja
Ia beranggapan bahwa
ia tidak mampu mengatasinya
dan tidak sanggup menolaknya
karenanya ia tidak bisa terlepas
dari padanya
dan tidak kuasa lari dari penderitaan itu
untuk menuju ke jalan
yang terjamin kebaikannya

Rabu, 29 September 2010

mimmmP!!!!!!!xxxuuu




Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa mewujudkan impian itu tidak gampang. Walaupun tidak harus selalu semua hal dibuat susah.

Tapi umumnya, untuk mewujudkan sebuah impian butuh proses panjang, berliku, harus melewati kerikil-kerikil tajam, terjal dan harus membiasakan diri bersahabat dengan ketidakpastian. Mereka yang sudah mengecap nikmatnya hasil keringat terbaiknya, selalu mengatakan bahwa mewujudkan impian harus penuh kesabaran dan siap berproses.

Inilah tantangan kita sepanjang zaman. Bagi yang sering mempelajari kisah-kisah tokoh, tentunya paham betul makna kesabaran. Salah satu contoh buku yang menceritakan kesabaran adalah buku karangan Kick Andy (dalam buku 7 Heroes). Bagi saya, Kesaksian hidup Wanhar Oemar dan ’Suster Apung’ sungguh menginspirasi tentang kesabaran. Saya menyimpulkan dalam pekerjaan apapun, kesabaran sangat diperlukan.

Cerita lain yang tak kalah seru adalah novel Frankenstein karangan Mary Shelley. Dalam buku ini dikisahkan tentang seorang pemuda dari Jenewa, Swiss, namanya Victor Frankenstein. Dia bertumbuh dan menjadi mahasiswa di kampus Ingoldstadt, Italia. Sejak hari pertama kuliah, dia menyukai kimia. Mr Waldman adalah guru favoritnya.

Kecintaannya pada kimia menginspirasinya untuk mencari tahu darimana datangnya kehidupan. Karena impiannya itu, ia rela melakukan penelitian di laboratorium setiap saat. Kadang ia tinggal semalaman di sana sampai bintang-bintang menghilang dari langit. Ia membaca buku-buku, memahami banyak hal dan melakukan percobaan sebanyak mungkin. Ia ingin menciptakan kehidupan. Karena terlena dengan impiannya itu, selama dua tahun ia bekerja keras, sampai-sampai lupa berinteraksi dengan keluarganya dan tidak pernah pulang kampung.

Ia pun terus bekerja. Hari-hari dilaluinya di dalam laboratorium, berteman dengan peralatan lab dan bau obat-obatan khas sebuah laboratorium, bersahabat dengan kesepian. Namun, sungguh mengharukan ketika ia harus terus bekerja meski sudah kelelahan, dan matanya sudah terasa berat tetapi semangat kerja kerasnya tak mengendur hingga iapun jatuh sakit.

Bagi kebanyakan orang, kesabaran dan kerja keras adalah hal yang amat sulit untuk dilakukan. Tidak begitu dengan Frankenstein. Ia tidak menyerah. Perjuangannya mewujudkan impiannya sungguh luar biasa. Sekalipun, tak jarang rasa frustrasi menghampiri saat menghadapi jalan buntu dan tiada kawan yang membantu. Mungkin yang paling mengerikan adalah saat ia merasa bahwa orang lainpun menganggapnya aneh, seperti alien, termarjinalkan dan tidak dimengerti masyarakat. ia dianggap sampah, kesepian, terpuruk, apalagi ketika hasil kerja kerasnya itu belum menampakkan titik terangnya sama sekali.

Ide menciptakan kehidupan dianggap konyol. Maka tak jarang, karena sebuah ide, kitapun akan ditertawakan, dipandang remeh orang lain. Dan untuk memperjuang impian itu, kita harus mengorbankan banyak hal dalam hidup kita, mulai dari masa-masa muda, materi, energi dan waktu bersantai kita. Seperti membaca sebagai sebuah investasi, berpikir sebagai latihan, menulis sebagai sarana menata pemikiran dan doa sebagai media pengharapan yang menguatkan jiwa dan memuaskan kerohanian kita.

Singkat cerita, pada akhirnya Victor Frankenstein berhasil mewujudkan impiannya, menciptakan kehidupan (meskipun cerita akhirnya berakhir buruk karena tercipta sasuatu yang disebut ’monster’). Tetapi, belajar kesabaran dari novel ini tentu tidak ada salahnya, justru banyak hikmahnya.

Kesabaran, tak lepas dari kekonsistenan. Tidak plin-plan, tidak terbawa arus sekalipun segala sesuatu yang ditawarkan oleh lingkungan sangat menggiurkan atau menjanjikan. Kekonsistenan menuntut keberanian mengambil resiko. Karena, barangkali sesuatu yang berharga, yang menurut kita adalah segala-galanya, namun bagi orang lain itu tidak ada apa-apanya dan segala sesuatu yang menurut orang lain adalah segala-galanya, belum tentu segala-galanya bagi kita.

Di sinilah terjadi rentang yang jauh antara keinginan kita dengan kehendak orang lain, kemauan kita dan kemauan orang lain yang tak mungkin bisa dirasionalkan. Maka ketika sebuah keputusan telah diambil, maka kita harus siap menanggung segala resikonya. Sebab keputusan yang telah kita ambil itu sifatnya mengikat. Di sinilah kesabaran menjadi pertaruhan.

Konsisten pada apa yang telah kita tetapkan benar dan terbaik mengantar kita untuk berani keluar dari standarisasi masyarakat (yang bagi kebanyakan orang dianggap bukan kelaziman). Karena untuk mendapatkan yang terbaik butuh kerja keras dan cucuran keringat kesungguhan. Pahami bahwa apa yang terbaik hanya dapat diperoleh dengan kerja keras (smart) dan kreativitas orisinal. Dalam keadaan menghasilkan kreativitas, setiap orang butuh pasokan motivasi dan inspirasi yang luar biasa untuk bisa terus berproses dalam mewujudkan impiannya.

Berproses

Syarat kedua untuk mewujudkan impian kita adalah siap bayar harga. Karena impian itu adalah sesuatu yang sangat berarti bagi kita, maka apapun ceritanya mewujudkannya butuh proses yang siap menghadapi berbagai kekecewaan. Untuk bisa berdiri di atas bukit tanpa ada cacat, tentulah butuh pendakian yang telaten, gigih dan memiliki semangat menaklukkan alam. Ketiga sifat diatas hanya bisa diperoleh dari kemauan dan kesiapan berproses dalam hidup. Dalam banyak hal, kita harus membiasakan diri akrab dengan rasa sakit karena kekecewaan yang menyayat sebagai latihan jiwani dan sakit fisik sebagai latihan badani. Karena mewujudkan impian membutuhkan keberanian "membayar harga".

Berproses mewujudkan sebuah impian, selalu ada harganya. Maka izinkanlah proses itu membentuk kita secara alami. Proses adalah bagian kehidupan yang amat berarti sekalipun kadang menyakitkan. Sebab siapa berani bertaruh bahwa gagal itu tak ada artinya, bila ia menjalani segala sesuatu dengan berproses? Siapa berani menjawab bahwa keberhasilan jauh lebih baik dari kegagalan, jika itu dilakukan dalam sebuah proses hidup mewujudkan impian?

Belajar dari kisah Franskenstein diatas, untuk mewujudkan sebuah impian, kita butuh kesabaran, kemauan berproses dan siap bayar harga, meskipun lingkungan sekitar kita memandang sebelah mata impian dan cara kita meraih impian tersebut. Bukan hanya orang lain, teman dekat kita barang kali, keluarga, bahkan orang tua kita sendiri. Bahkan, sangat mungkin impian kita tidak ada harganya dimata mereka. Sekalipun, lingkungan tidak mendukung kita, keterbatasan sarana dan prasarana kerap menjadi penghalang, namun jangan sampai kita melepas impian kita itu. Yakinkan hati kita, suatu saat kelak, semua proses itu akan terbayar, dan jerih payah kita tidaklah sia-sia. Selamat mengejar impian, Tuhan memberkati.**